Evaluasi Wisata Curug Usai Siswi Tenggelam di Baturraden, Apakah SOP Keamanan Sudah Memadai?
Sebelumnya diberitakan, seorang siswi berusia 17 tahun meninggal dunia setelah terseret arus deras saat mengikuti kegiatan outbound penutupan Dauroh Quran bersama rombongannya. Korban tenggelam saat berfoto di area air terjun bersama teman-temannya. Baca kronologi lengkapnya di artikel sebelumnya: Tragedi Outbound di Curug Kanesia Baturraden, Siswi Ponpes di Cilongok Tewas Terseret Arus Saat Berfoto
Insiden ini menyoroti risiko tersembunyi di balik wisata alam yang terlihat indah namun menyimpan potensi bahaya, terutama saat debit air meningkat atau arus berubah secara tiba-tiba.
Pengamat pariwisata lokal menilai pengelola wisata alam seharusnya memiliki prosedur keselamatan yang lebih ketat, termasuk pembatasan area berbahaya, pemasangan papan peringatan yang jelas, hingga penyediaan petugas pengawas di titik rawan.
“Area dekat air terjun seharusnya dipetakan berdasarkan tingkat risiko. Tidak semua titik aman untuk aktivitas pengunjung, apalagi untuk sesi foto bersama,” ujar seorang pelaku wisata di Banyumas yang enggan disebut namanya.
Selain tanggung jawab pengelola wisata, penyelenggara kegiatan rombongan juga dinilai perlu melakukan asesmen risiko sebelum memilih lokasi outbound. Kehadiran pendamping harus benar-benar memastikan peserta tidak berada di zona berbahaya.
Peristiwa ini juga memunculkan dorongan agar pemerintah daerah melalui dinas terkait melakukan audit keselamatan terhadap sejumlah destinasi wisata alam di kawasan Baturraden yang ramai dikunjungi wisatawan, khususnya saat musim liburan.
Keindahan alam memang menjadi daya tarik utama Baturraden. Namun tragedi di Curug Kanesia menjadi pengingat bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama agar wisata tidak berubah menjadi duka mendalam bagi keluarga korban.
Redaksi